Friday, September 19, 2014

My Precious

wuiihh... udah lama banget blog ga di update. Bukannya ga ada bahan tulisan, tapi entah kenapa dari kemarin mau buat tulisan untuk update blog tapi selalu mentah untuk di publish. Semoga kali ini bisa sukses menulis sampai dengan selesai hehehe..

Kavian Muhammad Gibran, anak laki-laki yang hari ini umurnya 3 bulan 12 hari ini totally change my life! Kayanya kelewatan deh cerita di blog ini kalau tanggal 7 Juni 2014 kemarin anak saya alhamdulillah wa syukurillah udah lahir di Balikpapan dengan sehat dan selamat sentausa berat badan 3.3 kg tinggi badan 49 cm. Punya anak itu ternyata.... super! Kayanya pantas untuk masuk kategori keajaiban dunia.. subhanallah.

Setiap hari adalah hari yang baru kalau dilewati bersama si bayi Kavi. Ada aja skill baru yang dia perform yang bikin takjub gemes dan bahagia banget liatnya. Dari fisik aja anak yang kemarin lahirnya 3.3 kg itu waktu imunisasi dua hari yang lalu beratnya udah 7.1 kg tumbuh lebih dari 100% hehehe..

Salah satu momen yang paling challenging dalam rutinitas baby-sitting adalah buat Kavi bobo di malem hari. Kavi punya siklus rutin dalam kesehariannya: bobo - bangun-bangun sambil ngantuk-ngantuk - berekspresi lucu ngegemesin - cerewet - good boy - lucu banget - bosen - rewel - ngamuk - mimi- sampe bobo lagi. Kira-kira gitu kelakuan Kavi berulang-ulang setiap harinya. Belakangan waktu ini, Kavi bobo sekitar jam 8 s.d jam 10 malem setiap harinya. Waktu yang lumayan tough adalah jam 7.30 malem sampe dia bobo.

Jam segitu biasanya dia udah cukup kenyang (karena mimi lumayan lama biasanya kalau habis mandi sore jam 4/5 sore) dan entah kenapa cenderung reweeeeell banget. Beberapa trick untuk bikin Kavi bobo antara lain: digendong hadap depan sambil shake-shake, dinyanyiin lagu (favoritnya Kavi belakangan ini: twinkle little star, sama the do re mi song), dengerin lagu-lagu coldplay versi orkestra sambil ayahnya karaoke (lagu coldplay favoritnya Kavi: yellow, viva la vida, life in technicolor ii, dan fix you), dan kadang kalau ayah bunda-nya nyerah dan bingung mau ngapain akhirnya ya kita adu kenceng aja nangis Kavi vs lagu-lagu lullaby bayi hehehe.

Oya, karena sepanjang hari Kavi diasuh sama bunda, kalau malem giliran ayah yang lebih in charge buat baby-sitting Kavi.

Dan, rasa bahagia yang paling tinggi nilainya saat ini adalah ketika Kavi lagi super rewel, mimi pun ditolak mentah-mentah, tapi kita struggle gendong, nyanyi, shake-shake, sampe Kavi ngantuk-ngantuk dan terus bobo sendiri, kemudian bobo sambil peluk kita.............. itu rasanya surga dunia banget!

I love you full lah, nak!

Wednesday, May 14, 2014

long time no post..
banyak ide tapi gagal ditulis secara menarik nih..

Saturday, April 5, 2014

Gadget Evolution

Well, sebetulnya saya bukan orang yang seneng banget gonta-ganti gadget. Sangat nggak malahan, tapi berhubung kemaren terpaksa ganti karena situasi emergency let's we look out the story between me and gadgets previously i owned.

Pertamaaaa kali banget punya hp waktu dulu kelas 3 SMP. Waktu itu pake hp bekas ibu, ericsson lupa tipenya apa tapi dia punya flip dan layarnya cuma 2 baris. Jadi kalau baca sms, teksnya gede-gede, dan cuma 2 baris deh pokonya. Kala itu hp yg mainstream dipunya sama temen2 yg lain adalah hp nokia. Lupa juga seri nya, ada yg gede kaya dan berantena sampe yg orang tajir pakenya 3310. Waktu itu game snake lagi super booming deh, and i was there in high scorer people.

Pake ericsson itu ga lama, karena selain warisan ibu, dulu pun beli hp itu 2nd jadilah setelah dipake beberapa waktu, hp itu pun rusak. Oya, dulu sim card perdana harganya muahal bingits, sampe SIMPATI Nusantara itu harga perdananya Rp1,5 juta untuk pulsa Rp100 ribu. Tapi suatu waktu, simpati ada semacam "operasi pasar" mereka buka order lewat koran dgn harga yg masuk akal. Then, my first number was 08122446400.

Dari ericsson kemudian saya ganti hp siemens. Tetep karena ga mau ikut arus mainstream nokia. My first siemens was M35. Dulu level nya nokia 3310 lahh, ring tone nya udah bisa dibuat sendiri (ada composer-nya hehehe). Cuma ga lama saya pake M35 ini, karena hilang di angkot. :((

Beli hp lagi waktu saya masuk SMA, yaitu siemens C55. Lumayan awet nih saya pake si C55 itu, sepanjang SMA. Yess, saya ga ganti2 hp lagi. Baru ganti lagi waktu kuliah, itu pun dipaksa sama bapak supaya anak2nya pake hp cdma (biar murah), ganti deh nomor flexi. Karena pilihan hp cdma waktu itu ga banyak, terpaksa pake Nokia yg fiturnya sip, bukan buatan cina, harganya ga mahal.

Flexi cuma murah kalau dipake sesama flexi, dan waktu tingkat 3 karena ada hp nganggur bekas punya bapak Nokia 9210, maka saya pake lah dan beli lagi nomor baru Kartu As untuk digunakan sebagai hp utama. Kala itu udah lumrah orang punya 2 hp: gsm dan cdma. Hp gsm buat social dan networking, sementara cdma buat teleponan lama ke keluarga dan pacar hehehe.. ga lama pake Nokia batu bata 9210, karena ga friendly buat kehidupan mahasiswa diganti deh sama Sony Ericsson W850. Yah, waktu itu lagi super booming walkman phone. W850 punya saya itu udah mulai jadi bagian penting kehidupan sehari-hari, seiring perkembangan jaman yg menunut mobilitas tinggi dan era informasi yg semakin terbuka, perangkat komunikasi jadi bagian yang paling krusial dalam rangka menunjang lifestyle yang up to date.

HP bukan lagi sms-telepon, tapi mulai berkembang untuk browsing internet, chatting (dulu tarif sms Rp250,- sementara tarif gprs Rp1/KB, udah pasti demi irit pulsa, yg doyan sms-an beralih ke chatting-an). Dan lebih dari itu, hp juga udah jadi entertainment device plus personal asssitant. Hp semi smartphone waktu itu udah support program berbasis java, mulailah aplikasi2 third party bisa di install di hp2 itu.

Lulus kuliah, saya baru ganti full smartphone meskipun waktu itu blackberru juga udah mulai masuk pasar Indonesia. iPhone 3G jadi smartphone pertama saya. 3 tahun pakai sampai obsolete dan ga sanggup lagi update OS dan download aplikasi, akhirnya ganti deh sama iPhone 4S.

So, 5 taun terakhir ini my primary phone selalu buatan apple. Terakhir iPhone 4S saya bermasalah, lalu ga ada duit buat beli hp buatan apple lagi jadi sementara beralih dulu dari iOS ke android yang ternyata juga cukup menyenangkan, meskipun banyak hal belum familiar dalam masa transisi dari iOS ke android.

That was the journey of my gadget evolution story. Kita lihat deh, how more complicated it would be in the next 20 years.

Sent from Samsung Mobile

Tuesday, April 1, 2014

Monthly Review

Ga kerasa udah 1 (satu) bulan pas saya dan istri tinggal berdua di Balikpapan. Our new life yang sebagian ceritanya udah pernah saya sampaikan di beberapa postingan blog sebelumnya. Penanda milestone sebulanan kami itu adalah saat gajian, momentum dari gajian bulan lalu sampai hari gajian di bulan berikutnya. Di suatu malam saat kami sedang leyeh-leyeh di kasur sambil nonton tv, tanpa sengaja saya berdiskusi dengan istri saya terkait dengan kehidupan kami sebulan ini. Ya, review ringan lah, khususnya mengenai cash-flow rumah tangga kami.

"Gimana nih sebulan ini?" tanya saya ke istri
"Bosennnnn..." jawaban pertama yang meluncur dari mulut istri saya. Maklumlah sebelumnya dia biasa melewati hari-harinya bekerja dengan produktif di sebuah perusahaan besar multinasional. Lalu tiba-tiba saja dia jadi seorang ibu rumah tangga. Di Balikpapan pula, jauh dari rumah, dan menjalani kehidupan dengan penuh ketergantungan dengan fasilitas kantor. Rumah yang kami tinggali merupakan fasilitas dinas, begitupun juga satu-satunya mobil yang bisa kami gunakan juga milik dinas. We are absolutely helpless far away here..

Wajar saja kalau akhirnya istri saya jadi bosan, karena praktis ga banyak hal yang bisa dilakukan seorang wanita hamil selain mengurus rumah semata. Saya juga jadi ikut sedih dan terluka. Seandainya saja kami hidup di seputaran Bandung/Jakarta yang ga terlalu jauh dari rumah, mungkin kehidupan istri saya ga bakal terlalu membosankan seperti ini. Tapi istri saya ga pernah mengeluh kok, dia tetap tidak mengorbankan kualitasnya dalam mengurusi hal-hal yang perlu diurus dalam rumah tangga. Dia tetap riweuh bangunin saya kalo solat subuh, menyiapkan pakaian kerja, sarapan, sampai hal-hal yang detail dan lalu menyambut saya dengan penuh kebahagiaan setiap malam saya pulang ke rumah usai bekerja.

Kalau Tuhan mengijinkan, doa yang kami panjatkan adalah ridho-Nya dan kuasa-Nya memindahkan kami ke Jakarta/Bandung sambil kami terus-menerus berusaha mencari jalur kehidupan baru agar kami bisa memiliki pusat aktivitas tidak jauh dari "rumah" kami tempat kami tumbuh besar.

"Gaji bulan kemaren kurang ga?" pertanyaan saya selanjutnya.
"Ngepas banget, kalau ada extraordinary expense malah bisa ngurangin tabungan" jawab istri saya. Dual income menjadi single income adalah konsekuensi lain dari menyatunya hidup kami. Dan sejujurnya, hal ini cukup berpengaruh terhadap rencana-rencana pengembangan keluarga kami. Ilustrasinya kaya gini nih PL bulanan keluarga kami saat ini:
Monthly THP: Rp.xx juta
Operation expense    : 11%
Consumable expense: 55%
Installment                : 30%

Alhasil, free cash flow/tabungan cuma sisa 4% dari THP padahal idealnya harusnya sampe 30% dan akhirnya dana cadangan untuk tabungan pun sangat mengandalkan dari annual bonus dan annual incentive yang cuma turun setiap semester. Langkah yang diambil untuk meningkatkan free cash flow agar kembali ke proporsi ideal pun adalah efisiensi, terutama efisiensi dari sisi consumable expense. Konsekuensi dari efiesiensi itu adalah beberapa kenyamanan yang harus dikorbankan, misalnya: penggunaan AC dibatasi hanya jam tidur, selebihnya menggunakan kipas angin. Selain itu, camilan-camilan yang masuk ke dalam pos consumable expense juga dikurangi, kalau misalnya banyak sekali kegiatan "jajan", sekarang banyak dikurangi. Gaya hidup 'royal' berubah menjadi 'sederhana'. Kembali ke salah satu doktrin masa kecil, "hemat pangkal kaya".

Kami pun hidup sedikit lebih 'prihatin' ketimbang sebelumnya. Tapi, rezeki kan memang urusannya Tuhan, urusannya manusia hanyalah berusaha supaya Tuhan bermurah rezeki. Yang jelas, bagian dari hidup kami ini akan menjadi cerita berharga untuk diceritakan kelak ke sang anak kalau dulu orang tuanya harus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas hidup.

Wednesday, March 19, 2014

Cerita Uang Jajan

Malam itu layaknya malam-malam lainnya dimana saya sedang siap-siap beranjak dari kantor untuk pulang ke rumah. Seperti biasanya, saya kabari istri saya via sms pendek "udah mau pulang, mau nitip apa?" dan dibalas istri saya "air galon buat dispenser masih kosong, tolong beliin Aqua 1,5L 2 botol" kemudian atas instruksi istri saya itu berangkatlah saya mampir sejenak ke foodmart sebelum pulang.

Tentunya kalau sudah sampe foodmart, mustahil rasanya keluar hanya dengan menenteng Aqua botol saja. Supermarket yang didesain membuat orang lapar mata mau belanja semuanya tentunya begitu menggoda pembelinya untuk mengambil produk-produk yang begitu tampil menarik dan dilabeli besar-besaran "Promo", "Diskon", dll. Saya pun begitu, setelah mengambil Aqua botol sesuai dengan pesanan, secara impulsif saya ambil juga beberapa amunisi tambahan: coca-cola 1.5L yang sedang diskon, susu ultra 1L, buah-buahan, dan beberapa camilan minor. Tiba di kasir, barulah tersadar bahwa unplanned shopping nan singkat itu saja bisa menghabiskan uang lebih dari selembar Rp.100.000,-

Tiba-tiba saya terlempar ke sepotong adegan di masa lalu, pada salah satu kebiasaan ketika saya dan adik-adik saya sedang dibawa Ibu belanja bulanan di supermarket. Dulu waktu saya masih SMP, Ibu kasih budget anak-anaknya untuk belanja snack favorit masing-masing tak lebih dari Rp.5.000,-. Bagi kami, saya dan adik-adik saya, nilai go ceng udah cukup untuk memuaskan nafsu belanja kami beli camilan yang diawet-awet sampai satu bulan, sampai kami diajak lagi oleh ibu belanja bulanan di bulan berikutnya. Duit lima ribu perak itu biasanya saya gunakan untuk beli: Chitato ukuran sedang (dulu harganya berkisar antara Rp.800,- s.d Rp.100,-), Cheetos, beberapa jenis coklat, dan snack manis lainnya antara 5 s.d 8 item camilan. Malah kadang-kadang budget Rp.5.000,- itu tak saya gunakan sepenuhnya, misalkan saya hanya pakai Rp.3.000,- sisanya sebesar Rp.2.000,- saya refund dan cash-nya saya tabungkan ke celengan Batman saya. Ya, lima ribu rupiah saat itu bisa digunakan membeli aneka camilan di saat budget belanja bulanan ibu sebesar Rp.150.000,-.

Sekarang Rp.100.000,- sangat jauh dari cukup untuk memenuhi keinginan pribadi belanja snack-snack idaman.

Lalu saya ingat pertama kali saya punya uang jajan waktu saya duduk di kelas 3 SD. Rp.100,- a.k.a ce pek a.k.a seratus perak. Kala itu, uang segitu bisa saya belanjakan diwaktu jam istirahat untuk beli snack krip-krip (Rp.25,- bisa dapat 3 bungkus), permen, coklat superman, coklat ayam jago, dan gorengan. Plus karena doktrin hemat pangkal kaya, setiap harinya saya bisa nabung Rp.25,- s.d Rp.50,-. membuat celengan Batman saya berbunyi kincring-kincring semakin nyaring apabila diguncangkan.

Ibu saya punya kebijakan kenaikan uang jajan setiap anaknya naik kelas. Besarnya Rp.100,- sungguh spektakuler, artinya dari kelas 3 SD ke kelas 4 SD pendapatan uang jajan saya meningkat 100%, dari Rp.100,- ke Rp.200,- demikian seterusnya setiap saya naik kelas sehingga uang jajan harian saya di kelas 6 SD sebesar Rp.400,-. Waktu saya kelas 6 SD, mie ayam porsi dewasa harganya Rp.1.000,- sedangkan untuk porsi anak-anak (anak SD) harganya separuhnya. Saya dibatasi hanya diijinkan ibu saya makan mie ayam sebulan sekali, makan mie ayam adalah sebuah perjuangan dan pencapaian karena disamping kesempatan yang langka, saya juga harus gunakan tabungan untuk makan mie ayam. Hal nyeleneh lainnya di masa SD adalah duit jajan dipake buat main game bot (diwaktu 5 menit, game bot diiket pake benang, waktu habis game bot ditarik), nonton film (padahal cuma slideshow doang pake proyektor yg mirip kacamata), dan semi-judi bayar Rp.100,- kita pilih undiannya random mulai dari koin Rp.50,-, permen, mainan, sampe jackpot Rp.500,-.

Putih merah kemudian berubah menjadi putih biru. Perubahan status dari anak SD ke anak SMP pun mempengaruhi perubahan besaran uang jajan saya. Peningkatannya juga cukup fantastis, kini saya dapat uang jajan tak lagi harian, tapi mingguan. Seminggu saya diberi uang jajan sebesar Rp.5.000,- alias Rp.1.000,- per hari. Awalnya saya sempet keteteran karena kebanyakan jajan dan terpaksa gigit jari ga bisa ikut jajan sama temen-temen di akhir minggu karena duit jajan ludes kepake jajan secara royal di awal minggunya. Di dunia remaja ini uang jajan ga cuma dipake buat jajan makanan semata, tapi juga nonton, jalan-jalan naik angkot sama temen2 (main ke rumah temen), plus beli macem-macem aksesoris yang sedang musim (pin, topi, poster, dll), sampai dipake ke rental komputer main Counter Strike! Hahaha! Di SMP inilah mulai kenal yang namanya ngutang alias minjem duit dulu ke temen kalo duit lagi habis.

Waktu jadi ABG di masa SMA, sistem keuangan semakin modern. Uang saku dikasih bulanan via transfer bank. Jadi ngambil duit musti ke ATM dulu (hahaha, gaya!) dan waktu itu saya dapet sebulan Rp.300.000,- dimana ATM waktu itu nominalnya Rp.20.000,-. Masa-masa SMA inilah kedewasaan untuk menahan diri tidak hidup konsumtif betul-betul diasah. Tantangannya adalah hidup ga konsumtif tapi gaul harus tetep jalan.

Ga kerasa tahun berganti dan kemudian situasi berubah sedrastis ini. Masa belanja bulanan bareng Ibu dulu dengan modal Rp.5.000,- kini berganti dengan belanja keperluan rumah tangga yang menghabiskan saldo lebih dari 200x lipatnya. Phew, berarti harusnya saya saat ini punya pendapatan 200x lipat pendapatan ayah saya saat itu. Kayanya belanjanya sampe 200x lipat, tapi ga diiringi pendapatan...

Wednesday, March 12, 2014

Mail-to-Blog test

This is the test on how to post a blog from mail application

Sent from my iPad

Thursday, February 27, 2014

A Whole New World

Udah hampir dua minggu ini ada perubahan kecil di kehidupan saya di Balikpapan. Iya, udah diceritain kok di postingan sebelumnya kalo emang istri saya yang paling kece itu ngikut tinggal bersama saya di Balikpapan setelah resign (entah resign, entah maternity leave, entah unpaid leave, pokonya sih for moment out from her current job deh). Perubahannya kecil tapi efeknya lumayan drastis.

Cerita dulu sedikit, selama 7 bulan sejak Juni 2013 saya di Balikpapan ini, there was no intention of living a life in here. Alasan keberadaan saya ada di sini adalah for the sake of the one and the only kerja, thok, tapi memang seiring dengan perkembangan situasi dan munculnya pertimbangan-pertimbangan, akhirnya istri saya ngikut juga sama saya di Balikpapan ini.

Pada awalnya emang ga mudah, mulai dari cari-cari rumah and finally set up the more established life, tapi kemudian jadi cerita menarik dan kayanya cukup meaningful buat diceritain ke anak nantinya. The first week, istri saya masih tinggal di tempat kost karena rumah yang kami pilih wasn't proper enough for living. As usual, saya yang lumayan energetic in work ini merasa cukup terinterupsi dengan terbaginya fokus tanggung jawab lainnya sebagai suami yang istrinya exist in nearby. Rumah yang kami sewa perlu usaha superbesar untuk bisa jadi tempat yang nyaman buat dihuni. Maklum aja, ternyata 1.5 tahun atau mungkin lebih rumah itu kosong tanpa ditinggali, bisa dibayangkan tebalnya debu menumpuk di seluruh sudut rumah dan bau apek yang gila-gilaan. Tiga hari penuh kami habiskan untuk total cleaning up, dan rasa-rasanya sampai hari ini masih belum juga tuntas sepenuhnya.

Nyapu, ngepel, ngelap, nyapu lagi, ngepel lagi, ngelap lagi, bebersih, beberes, dll kayanya ga habis-habisnya kami lakukan agar si rumah jadi tempat yang proper buat ditinggali. Selain itu, ga habis-habisnya juga kami belanja keperluan rumah mulai dari yang gede-gede semacam peralatan elektronik major: kulkas, tv, rice cooker, dispenser, terus juga belanja perlengkapan furniture: gordyn, gordyn tipis, karpet gede, karpet kecil, dan juga perkakas-perkakas lainnya: ember laundry, ember cuci, sapu, alat pel, rupa-rupa peralatan masak, rupa-rupa peralatan makan, sampai bolak-balik 5x ke hypermart karena meskipun udah ditulis secara detail perlengkapan apa aja yang masih kurang ternyata selalu ada lagi barang-barang yg kurang-kurang buat dibeli.

Heboh deh pokonya acara masuk ke rumah baru ini.

Disamping pekerjaan fisik yang begitu menguras waktu, tenaga, dan biaya, hal lain yang cukup menguras energi adalah beban pikiran. Di waktu office hour saya jadi stress mikirin istri saya lagi ngapain, bosen apa nggak di rumah, bisa makan atau nggak, padahal load pekerjaan juga lagi ga sedikit. Kemarin itu, pas juga sedang banyak banget urusan super penting di kantor yang harus diselesaikan yang sifatnya mendesak. Salah satu yang bikin rempong adalah mobilitas istri saya yang dependant banget sama saya. Maklum, mobil cuma ada 1 dan other way of using public transportation in Balikpapan is absolutely not an easy way to do. Angkot susah dan ga lewat ke komplek perumahan tempat kita tinggal, kalau mau terus-terusan pake taksi pun biayanya aduhai cukup menguras saldo rekening tabungan.

Singkat cerita, dua kerjaan heboh simultan di rumah dan kantor itu finally almost completely set up in two weeks. Terutama sih rumah, minimal udah bisa ada kegiatan normal lah setelah 90% tools & equipment yg paling basic pengadaannya udah rampung. At least, the house now is proper enough to be called as home and else thing is istri udah bisa masak di rumah deh pokoknya.

And now, here we go the new chapter of my family life in Balikpapan. Akhirnya kita bisa tinggal di rumah sendiri, bener-bener hanya tinggal berdua, kalau kata lagunya Aladdin "a whole new world... with you"